Archive

Followers

Senin, 18 Oktober 2010

Legenda Naga di Meulaboh

           Bagi kebanyakan orang, kisah-kisah dalam legenda kerap dianggap isapan jempol belaka, tidak logis. Bila kita berniat arif menyikapi dan memaknai hal yang tersurat dan tersirat dalam legenda, akan tersibaklah fakta yang tak terlalu jauh dari jalan sejarah. Dalam ilmu-ilmu sosial, legenda sendiri adalah bagian dari sejarah rakyat (folk history).


          Legenda terlahir dalam budaya tutur. Perilaku bertutur memang lekat dalam kehidupan nenek moyang kita yang masih minim teknologi canggih, pun di zaman kita sekarang ini. Marilah sejenak kita bayangkan keindahan legenda-legenda yang kerap dikaitkan dengan kejadian-kejadian alam hingga yang mengisahkan asal usul suatu tempat, ada perpaduan antara irisan-irisan sejarah dan daya cipta berimaginasi para leluhur.
Di balik kisah, niscaya tersisip pesan kearifan yang ingin tersampaikan. Inilah warisan dari para leluhur yang nilainya yang tak bisa sembarangan diukur dengan patokan materi. Saya terenung oleh warisan semacam itu, yang saya peroleh dari pengalaman selama dua pekan bersama sebuah tim sukarelawan di daerah Meulaboh, Aceh Barat. Proses perolehan untuk menafsirkan pesan para leluhur ini dapat dibilang antara sengaja dan tidak sengaja, seperti sebuah kisah “kebetulan”.


          Tim yang saya ikuti sebenarnya berfokus pada bantuan medis. Namun demikian, kami tidak mengabaikan interaksi sosial bersama warga setempat. Saya paling suka mendekati anak-anak, membiarkan mereka mengekspresikan diri dengan cara mereka sendiri. Cerita demi cerita yang mereka lontarkan tak banyak saya sela. Saya menangkap sebuah legenda, tentang naga. Kali pertama saya dengar kisah ini dari Ami, seorang anak perempuan yang berusia lima tahun. Ami pintar melukiskan kengerian dan ketakutannya ketika air laut bergulung-gulung menghempaskan rumah demi rumah hingga ketika ia dan keluarganya serta para tetangganya menyelamatkan diri di mesjid. Lama-lama cerita Ami berkembang, tentang kehadiran naga.
Ada naga yang muncul saat tsunami, dengan api yang menjulur-julur, yang menurut Ami keluar dari mulut sang naga. Rupa-rupanya imajinasi hebat itu sudah menjadi milik umum. Rombongan anak lainnya, di suatu kesempatan yang lain, juga memberikan gambaran yang hampir serupa tentang kehadiran sang naga. Yang saya tangkap saat itu, telah beredar sebuah kisah naga, yang mengiringi peristiwa bencana yang memilukan di Meulaboh khususnya. Saat itu saya mengira-ngira, anak-anak memang cepat bereaksi dan berkreasi dengan kisah-kisah semacam itu.


          Akan tetapi, kisah “naga” sesekali tertangkap oleh telinga saya ketika menyimak rincian-rincian saat tsunami datang dari kalangan orang dewasa. Air laut yang datangnya berkejaran-kejaran dengan ketinggian yang berbeda-beda dan berkecepatan tinggi itu diibaratkan tubuh naga yang tengah berlari menghantam rumah-rumah, bangunan-bangunan, sawah, perahu-perahu, dan menelan nyawa sanak saudara mereka. Saya memaklumi, keganasan sang naga dengan liuk tubuh raksasanya dapat mewakilkan kemurkaan yang menakutkan bagi sebagian besar warga di pesisir barat Sumatera itu.


          Saya semakin terinspirasi dengan kisah sang naga. Ketika tiba di Kecamatan Meureubo yang terletak di timur Meulaboh kota, saya mendapatkan sederet desa yang memiliki satu nama yang sama, “Peunaga”. Saya sempat mengunjungi desa-desa yang bernama Peunaga Rayeuk, Paya Peunaga, Peunaga Pasi, sampai Peunaga Cut Ujong. Saya terheran-heran dengan kata “naga” yang ada di tiap nama desa tersebut.
Saya pun mendapatkan penjelasan dari beberapa warga bahwa peunaga berarti ‘tempat naga’. Menurut mereka, konon di sekitar itu dahulu tempat bermukimnya naga. Memang ada beberapa versi lain tentang asal mula nama desa dengan kata peunaga. Salah satunya adalah bahwa kata peunaga berasal dari nama pohon “naga-naga”, yang berasal dari kosa kata kaum pendatang asal tanah Minang, orang-orang Jamee. Yang jelas, masih termuat kata “naga” di sana. Ada satu tempat lagi di sekitar itu dengan nama “naga”, pantai Lamnaga, yang kini juga telah porak-poranda. Sebelum bencana, pantai itu termashyur sebagai kawasan wisata yang ramai dikunjungi, dengan segala sisi positif dan negatifnya.


Saya merangkai temuan-temuan saya itu dengan satu kata kunci, “naga”. Nagalah yang dikisahkan oleh anak-anak untuk memberikan ibarat akan sesuatu yang menakutkan. “Naga” juga digunakan orang-orang dewasa ketika menceritakan kedahsyatan gelombang air laut yang meluluhlantakkan segalanya. Naga menjadi legenda, dikisahkan dari mulut ke mulut, oleh anak-anak dan orang-orang dewasa. Legenda memang dihadirkan untuk ruang tempat tertentu pada ruang waktu yang tertentu pula (dalam Encarta Encyclopedia Standard Edition 2004).
Lalu, ada apa pula dengan desa-desa yang memakai kata peunaga tadi? Mencermati kata peunaga memuat kisah legenda tentang keberadaan naga di zaman dahulu, saya teringat akan tulisan-tulisan yang membeberkan bahwa kejadian bencana tsunami pernah menimpa daerah sekitar Aceh beberapa ratus tahun yang lalu. Apakah ini suatu pembenaran bahwa legenda memang tak jauh dari sejarah, sebuah folk history?
Legenda dan mitos tentang naga memang laku keras di belahan dunia, timur dan barat. Dalam berbagai kisah yang saya dapatkan dari Encharta Encyclopedia Edition 2004, sosok naga memiliki dua sisi yang bertolak belakang, naga sebagai simbol kejahatan, yang mengakibatkan kepiluan dan kegelisahan, dan sebagai simbol pengayoman.


          Dalam kisah epic bangsa Mesopotamia 200 SM, tersebutlah dewi Tiamat, naga penguasa lautan yang tugasnya membuat keributan dan kehancuran sebagai syarat terciptanya keteraturan jagat raya. Bangsa Mesir kuno percaya bahwa setiap pagi hari Apophis, naga kegelapan, ditaklukan oleh Ra, dewa matahari. Bagi bangsa Hebrew kuno, naga adalah citra kematian dan kejahatan. Pencitraan ini berlanjut dalam tradisi Kristiani, yang dapat dibaca dalam kisah-kisah di Kitab Suci. Dalam tradisi seni Kristiani sendiri, naga dilukiskan sebagai simbol dosa, yang terkulai di kaki-kaki para martir dan santa, seperti yang termaktub dalam legenda St George, sebagai penggambaran kemenangan kaum Kristiani terhadap paganisme.
Dalam mitologi zaman klasik, naga adalah simbol yang mengayomi. Naga Ladon, misalnya, menjaga apel-apel emas di taman Hesperides. Naga-naga jugalah yang melindungi para budak perempuan yang ditawan. Bagi orang-orang Yunani dan Romawi, naga adalah mahluk yang mampu memahami dan mengungkapkan rahasia-rahasia di bumi. Bagi orang-orang timur, khususnya di Jepang dan China, naga melambangkan kekuatan spiritual yang luar biasa, memiliki kearifan yang bersifat gaib dan duniawi. Naga-naga berdiam di dalam air, yang bermakna mereka mampu memberikan kesejahteraan dan keberuntungan. Naga dalam perayaan Tahun Baru China diyakini dapat mengusir ruh-ruh jahat yang dapat merusak tahun yang baru berganti. Dalam mitologi umat Hindu, dewa langit dan pemberi hujan, Indra, terbang bersama seekor naga bernama Vitra, untuk menurunkan hujan.


          Sosok naga mewakili kekuatan alam, dahsyat dan menyimpan misteri. Tak heran orang-orang terdahulu berpegang pada keyakinan ini untuk menganalisa kejadian-kejadian alam, seperti gempa bumi. Di kalangan filsuf Yunani, ada pendapat mulai dari dorongan angin yang kuat hingga pembakaran-pembakaran yang terjadi di dalam perut bumilah yang memicu gempa. Yang menarik, adalah ketika citra naga dimanfaatkan untuk meneliti sebab gempa oleh cendikia asal China, Chang Heng, pada tahun 130 M. Untuk meyakinkan bahwa ombak yang bergelombang berasal dari sumber gempa, ia membuat sebuah bejana perunggu. Delapan bola ditaruh di masing-masing mulut delapan naga rekaan, yang diletakkan di sekitar bejana itu. Gelombang yang membawa gempa bumi akan menjatuhkan satu atau lebih bola. Inilah alat yang digunakan sebelum penemuan seismograf dirintis oleh ahli geologi asal Inggris pada tahun 1870an.
Legenda naga di Meulaboh bisa jadi tidak lepas dari temuan-temuan para leluhur di sekitar daerah itu yang telah mengalami kejadian gempa serta gelombang air laut yang menerjang daratan. Ada pesan yang ingin dialirkan dari generasi ke generasi, lewat nama sejumlah desa. Dengan mempertimbangkan kisah legenda naga di berbagai belahan dunia, sosok naga tidak hanya menggambarkan kebinasaan melainkan ada juga hikmah tentang sifat naga yang mengayomi. Penafsiran saya, hal inilah yang barangkali sempat terpetik oleh para pendahulu karena mereka telah melintasi masa sebelum "sang naga datang”, saat-saat “sang naga menampakkan sosoknya”, dan ketika “naga menghilang”.


         Legenda naga juga saya maknai sebagai kisah dari orang-orang yang tidak menganggap diri mereka sebagai korban. Merekalah orang-orang yang tegar, selamat dan bermaksud menyelamatkan jiwa anak cucu mereka. Legenda menjadi ramuan pengingat agar kita dijauhkan dari penyakit semacam amnesia. Dengan segala kerendahan hati, saya haturkan tabik yang khidmat kepada para pendahulu ini, orang-orang yang memiliki budaya peduli, care.


Komentar :

ada 0 komentar ke “Legenda Naga di Meulaboh”

Poskan Komentar

Google Search USA


ShoutMix chat widget
 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Anak rpl